SISTEM PEMIKIRAN DAN KARYA AL-GHAZALI

 


SISTEM PEMIKIRAN

DAN KARYA AL-GHAZALI

OLEH : VERRA SAFITRI

PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)

UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ) WONOSOBO JAWA TENGAH

 


Abstrak           :

Pada 450 H/1058 M, terlahir seorang filosof dari Thus yang bernama Al-Ghzali, dia menciptakan karya berupa buku salah satunya mengenai etika, yaitu Maqashiid Al-Falasifah. Dalam hidupnya berawal di Thus berkembra hingga kembali ke Thus lagi. Al-Ghazali adalah salah satu orang yang begitu terkenal di Bagdad dan menjadi dosen disitu bersamaan dengan mempelaji ilmu filsafat. Al-Ghazali adalah salah satu filosof yang menentang beberapa doktrin dan filosof pendukungnya. Al-Ghazali menemukan bahwa yang paling keliru adalah filosof yang bergelut dibidang teologi dan metafisika dan dia memilih cara mistisime sebagai cara untuk memperoleh kebenaran tersebut.

A.     PENDAHULUAN

 

Sejarah mencatat bahwa perkembangan pemikiran dan akal sangatlah cepat, hal ini dapat di lihat dari banyaknya filosof-filosof yang bermunculan dan mampu memberikan kontribusi positif lewat karya-karyanya yang mempuni dan banyak dijadikan reference bagi perkembangan dan kemajuan pemikiran manusia saat ini.

 Dalam perkembangannya tidaklah sedikit para filosof terutama filosof muslim yang menjadi icon perubahan dari jaman ke jamannya, pun demikian dengan al-Ghazali ia dikenal dengan filosof yang banyak berperan aktif dalam pengembangan warisan intelektual berupa kekayaan kebudayaan yang tergambar dalam berbagai bidang yang menjadi titik tolak keberangkatannya dalam menciptakan buah karya-karya beliau yang luar biasa.  

    Esensi penalaran filosofis dilaksanakan melalui pembuktian, pengajuan alasan-alasan objektif dan bukan bersandarkan pada motif-motif, perasaan-peraaan, dan dugaan-dugaan subjektif dalam menempatkan argumen. Namun, pemahaman terhadap konsep-konsep yang berkarakter rasional, logis, dan objektif dalam sistem filsafat dapat dipermudah dengan semangat dan etos yang aktif dalam sistem itu.

B.      RUMUSAN MASALAH

1.       Bagemana kehidupan Al-Ghzaali

2.       Apa karya Al-Ghazali

3.       Sistem pemikiran Al-Ghazali


 

C.     PEMBAHASAN

1.       Kehidupan Al-Ghazali

       Al-Ghazali lahir di Thus Khurasan, dekat Masyhad sekarang, pada 450 H/1058 M. Dia dan saudaranya, Ahmad, ditinggal yatim pada usia dini. Pendidikannya dimulai di Thus. Lalu, Al-Ghazali pergi ke Jurjan. Dan sesudah satu periode lebih lanjut ke Thus., dia ke Nisabur, tempat ia menjadi murid Al-Juwaini Iman Al-Haramain hingga meninggalnya yang terakhir pada 478 H/1085 M. Beberapa guru lain juga disebutkan, tetapi kebanyakan tidak jelas. Yang tekenal adalah  Abu ‘Ali Al-Farmadhi. Dan Naisabur, pada 478 H/1085 M, Al-Ghazali pergi ke kampus Nizam Al-Mulk, yang menarik banyak sarjana dan di sana ia diterima dengan kehormatan dan kemuliaan. Pada suatu saat yang tidak dijelaskannya secara khusus, tetapi dapat dipastikan sebelum perpindahannya ke Bagdad, Al-Ghazali mengalami fase skeptisisme, dan menimbulkan awal pencarian yang penuh semangat terhadap sifat intelektual yang lebih memuaskan dan cara hidup yang lebih berguna.

       Pada 484 H/1091 M, dia diutus oleh Nizam Al-Mulk untuk menjadi guru besar di Madrasah Nizhamiyyah, yang didirikan di Bagdad. Al-Ghazali menjadi salah satu dari seorang yang paling terkenal di Bagdad, dan selama 4 tahun dia memberi kuliah kepada peserta yang mencapai lebih dari tiga ratus mahasiswa. Pada saat yang sama, dia menekuni kajian filsafat dengan penuh semangat lewat bacaan pribadi, dan menulis sejumlah buku.

       Namun, pada 488 H/1095 H dia menderita penyakit jiwa yang membuat dirinya secara fisik tak dapat lagi memberi kuliah. Beberapa bulan kemudian dia meninggalkan Bagdad dengan dalil untuk melaksanakan haji, tetapi sebenarnya dia ingin meninggalkan status guru besarnya dan kariernya keseluruhan selaku ahli hukum dan teolog. Motif-motif pengunduran dirinya telah banyak didiskusikan hingga saat ini. Al-Ghazali sendiri mengatakan bahwa dia takut akan masuk neraka, dan melakukan banyak kritik atas kerusakan yang dilakukan ulama pada masanya. Dengan demikian, besar kemungkinan bahwa dia meninggalkan jabatan resmi yang terorganisasi itu, yang didalamnya ia juga terlibat, karena jabatan tersebut korup. Oleh sebab itu, satu-satunya cara untuk mengarah kepada kehidupan yang benar, sebagaimana dipahaminya, adalah harus meninggalkan jabatan tersebut seluruhnya.

       Dari penolakan Al-Ghazali atas jabatan guru besarnya di Bagdad, hingga kembali ke Naisabur untuk mengajar pada 499 H/1106 M, ada jangka waktu sebelas tahun dan kadang-kadang dikatakan, bahkan dikatakan dalam catatan biografis Muslim awal, bahwa Al-Ghazali menghabiskan waktu sepuluh tahun di Suriah. Pembacaan yang cermat atas ucapannya dalam Mungide memastikan bahwa dia hanya tinggal dua tahun di Suriah. Sejak kepergiannya dari Bagdad pada bulan Dzulqa’dah 488 H-/November 1095 M, Al-Ghazali menghabiskan beberapa waktu di Damaskus, lalu pergi ke Madinahdan Makkah lewat Jarusalem dan Hebron, sambil melaksanakan haji pada 489 H/November-Desember 1096 M. Kemudian dia kembali sebentar ke Darmakus, tetapi ungkapan Al-Ghazali sendiri “sekitar dua tahun disana” harus dipahami secara bebas, dia dilaporkan pernah terlihat di Bagdad pada bulan Jumada Al-Tsaniyah 490 H/Mei-Juni 1097 M, tetapi ini mungkin hanya singgah sejenak dalam rangkaian perjalanan ke kampung halamannya, Thus.

       Pada periode pengunduran dirinya di Damaskus dan Thus, Al-Gazhali hidup sebagai sufi yang miskin, selalu menyendiri, menghabiskan waktunya untuk meditasi, dan pelatihan-pelatihan ruhanyah lainnya, pada periode inilah dia menulis Ihya’ Ulum Al-Din, karya besarnya tentang etika dan boleh jadi telah mengajarkan isinya kepada peserta-peserta terbatas. Menjelang akhir periode ini, Al-Gazhali telah berkembang jauh sepanjang jalan mistik, dan yakin pada itulah jalan hidup tertinggi bagi manusia.

       Adalah dalam Ihya’ Ulum Al-Din Al-Ghzali dengan jelas menyatakan pentingnya syaikh atau “pembimbing moral” sebagai figure sentral. Figure pembimbing moral atau pembimbing rohaniyah terikat erat dengan ini etika mistik Al-Ghazali. Berdasarkan fakta bahwa ide tanpa pembimbing moral sangat “konkret”, dalam pengertian bahwa tidak begitu abstrak seperti doktrin penahapan rasional tentang hal (keadaan state) dan maqam (perhatian station), maka inilah ide yang menjadi popular dan dengan mudah dapat dicerna oleh penganut mistik, terutama di daerah pedesaan. Akhirnya, doktrin ini memiliki banyak pengaruh dalam membangun tipe pemikiran yang khususnya dianut oleh para penganut doktrin mistik.

       Bagi Al-Ghazali sendiri, “doktrin mistik” yang berkaitan erat dengan ide “pembimbing moral” secara keseluruhan tidaklah baru sama sekali. Dia semata-mata mengalihkan doktrin ini dari tokoh mistik pendahulunya. Al-Ghazali sendiri menyebut dalam Mungidz bahwa ia telah membaca seluruh buku-buku sufi, sperti Qut Al-Qulub dari Abu Thalib Al-Makki (w. 386 H/996 M), karya-karya Harits Al-Muhasibi (w. 243 H/857 M), fragmen dari pemikiran Al-Junaid (w. 298 H/910 M), Al-Syibli (w. 334 H/945 M) dan Abu Yazid Al-Bistami (w. 261 H/875 M). Akhirnya, dia menambahkan bahwa ia telah membaca wacana-wacana dari seluruh sufi utama. Dalam Ihya’ Al-Ghazali menyusun sistematika doktrin mistik secara rasional dan filosofis, tetapi dia tidak pernah mengubah ide tentang “pembimbing moral” dalam rumusan doktrin mistiknya yang baru, dengan demikian, adopsi Al-Ghazali atas pandangan hidup sufi pada akhirnya dalam kenyataan merupakan suatu konsekuensi dari kegagalannya untuk menemukan solusi filosofis atau persoalan-persoalan teologi.

       Dari pandangan muslim modern, jenis etika yang bersandar pada otoritas “pembimbing moral” sungguh-sungguh dipertanyakan, mengingat dia tidak mendidik orang untuk “otonom” dalam membuat keputusan bagi kehidupannya sendiri dan tidak dapat membimbing kretivitas berpikir. Baik disadari maupun tidak, Al-Ghazali sendiri mengakui arti penting tipe pemikiran ini untuk meraih keutamaan mistik tertinggi. Kita akan melihat selanjutnya nanti implikasi dari tipe pemikiran ini dalam membangun cara berpikir secara umum.

       Pada 499 H/1105-6 M, Fahr Al-Mulk, puta Nizam Al-Mulk, dan Wazir Sanjar, penguasa Suljukiah di Khurasan, menekan Al-Ghazali untuk kembali ke kerja akademik. Dia meyerah atas penekanan itu, sebagian didirong oleh keprcayaan bahwa dia titakdirkan untuk menjadi pemburu aga (mujaddid) pada permulaan abad yang baru menurut hadist yang masyhur. Pada bulan Dulqa’adah /Juli-Agustus 1106 M, Al-Ghazali mulai mengajar di Nizamiyah di Naysabur dan tidak lama sesudah itu menulis karya autobiografis Al-Munqidz min Al-Dhalal. Namun, sebelum meniggalnya pada bulan Jumada Al-Tsaniyah 505 H/Desember 1111 M, Al-Ghazali kembali berhrnti mengajar dan kembali ke Thus. Di sini, barangkali sebelum berangkat ke Naysabur, dia mendirikan khanaqah atau pusat sufi, tempat dia melatih murid-murid muda mengenai teori dan praktik kehidupan sufi.[1]

2.       Karya karya Al-Ghazali

       Selama Al-Ghazali hidup dia membuat beberapa karya, disamping tulisan-tulisan awalnya tentang jurisprudensi (fiqh), karya petama ketika Al-Ghazali berbicara tentang etika adalah Maqashiid Al-Falasifah. Buku ni ditulis suatu waktu setelah tahun 484 H/1091-2 M, dan sebelum tahun 486 H/1094 M, selama periode kurang dari dua tahun ketika dia sedang mengkaji filsafat pada waktu senggangnya dengan tujua untuk memahaminya.

       Pada bagian akhir Maqhasid, Al-Ghazali berjanji untuk menolak ilmu-ilmu filsafat tertentu dengan buku yang berjudul Tahaful Al-Falasifah yang tampaknya selesai ditulis sekitar tahun 488 H/1095 M. dalam buku yang belakangan, dia menentang pandagan para filosof tentang fisika dan metafisika, tetapi membolehkan logika untuk berlaku sebagai ilmu yang tak dapat ditolak.

       Pernyataan pertama Al-Ghazali mengenai etika terungkap di dalam sebuah konteks yang memberi kesan bahwa etika itu dipungut dari para filosof. Pernyataan yang lebih personal dan positif ditemukan dalam dua karya yang lain, yang secara kronologis diikuti satu sama lain, seperi halnya Maqashid diikuti oleh Tahafut, karya-karya itu adalah Mi’yar Al-Ilm dan Mizan Al-Amal.

       Karya Al-Ghazali yang terpenting adalah magnumpus-nya, Ihya’ Ulum Al-Din, terutama Jilid III dan IV, Mizan Al-Amal dan Ihya’ Ulum Al-Din adalah dua risalah Al-Ghazali yang mendiskusikan teori etikanya dengan terperinci. Perbedaan antara karya yang terdahulu dan karya yang belakanga adalah yang terdahulu merupakan ringkasan dari yang belakangan.

       Diskusi Al-Ghazali mengenai masalah universalitas norma atika ditulis dalam Al-Mustasyfa min ‘Ilm Al-Ushul, dia juga mendiskusikan secara panjang-lebar makna etika normatif mengenai baik (hasan) dan buruk (qabih) dalam karya ini.

       Di samping karya-karya penting ini, ada lagi karya lain yang membahas secara terperinci tentang perkembangan penylidikan Al-Ghazali mengenai kebenaran dalam autobiografinya Al-Munqidz min Al-Dhalal. Karya-karya tersebut digunakan sebagai rujukan pokok bagi filsafat moral Al-Ghazali dalam kajian ini. Masih banyak lagi karya Al-Ghazali yang lain, beberpa diantarannya dimaksudkan sebagai penjelasan lebih lanjut atas ide mistiknya ataupun berupa karya terpisah mngenai teologi.[2]


 

3.       Sistem pemikiran Al-Ghazali

Dalam menulis filsafat kritisnya, Al-Ghazali mulai dengan mengkritik metafisika rasional-emanatif pada masanya. Dalam Tahfut Al-Falasyfah (mengandung dua penolakan), Al-Ghazali menantang hampir semua doktrin Aristoteles dan Plotinus serta para filosof Muslim pendukungnya, seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina.

Kritik Al-Ghazali atas metafisika sebenarnya meliptui kritiknya terhadap Islamic aristotelianism (pemikiran filosof muslim yang dipengaruh oleh aristoteles-pemerg). Yang berkembang menjadi teologi rasional berdasrkan metafisika aristoteles. Karena teologi ini bersifat rasional, salah satu asumsi dasarnya adalah bahwa rasio manusia mampu menyelesaikan sebagian besar dari persoalan-persoalan teologi.  Asumsi inilah sesunguhnya yang ingin ditolak Al-Ghazali dan penolakan ini, sebagaimana terjadi melibatkan pembuktian kesalahan asumsi-asumsi tersebut secara rasional. Jika ini dapat diperlihatkan, kita tidak lagi dapat mempercayai akal pikiran manusia dalam usaha ini dan sebaliknya kita mesti menolak metafisika rasional dan menggunakan bantuan Wahyu untuk pegetahuan semacam itu.

       Tahap kedua ini dari wacana filsafat Al-Ghazali adalah membangun etika mistik yang original dalam karya-karyanya Mizan Al-Amal dan Ihya’ Ulum Al-Din.Sistem pemikiran filsafat tersebut dengan jelas dapat dipahami dari oautobiografi Al-Ghazali, Al-Munqidz min Al-Dhalal. Dalam karya ini, Al-Ghazali menjelaskan bahwa ia memulai dengan pembahasan mengenai kelompok-kelompok pencari kebenaran. Al-Ghazali menemukan bahwa kelompok pencari kebenaran adalah yang paling keliru adalah filosof yang bergelut dengan teologi dan metafisika. Oleh karena ketidakpuasan yang mendalam terhadap cara-cara memperoleh kebenaran tersebut, Al-Ghazali akhirnya memilih cara-mistisme

       Dalam penylidikan cermat terhadap teori Al-Ghazali yang menolak metafisika rasional. Persoalan kusalitas, baik itu yang diterapkan dalam wilayah kealaman maupun wilayah moralitas, sebagai fakta penting untuk memasuki wilayah lebih jauh dari seluruh topik yang sedang dibahas. Al-Ghazali memandang ”tindakan etis” dalam kerangka kasualitas, bahkan Al-Ghazali memasukkan problem kualitas dalam diskusinya yang ketujuh belas dari Tahafut.

 

       Hubungan antara ide Al-Ghazali tantang kusalitas dan keseluruhan teorinya dalam menolak metafisika rasional dan membangun etika mistik terjali erat begitu rupa sehingga tak harus dipisahkan satu sama lain. Ide tentang syaikh atau “pembimbing moral” yang dipandang Al-Ghazali sebagai perantara-perantara penting dalam meraih mistik. Al-Ghazali menolak “rasio” sebagai “prinsip pengarah” (guiding principle) dalam tindakan etis manusia, Al-Ghazali memilih “wahyu” melalui intervrensi ketat dari syaikh atau “pembimbing moral” sebagai pengaruh utama bagi orang orang pilihan dalam mencapai keutamaan mistik.[3]


 

D.     KESIMPULAN

Al-Ghazali lahir di Thus Khurasan, dekat Masyhad sekarang, pada 450 H/1058 M. Dia dan saudaranya, Ahmad, ditinggal yatim pada usia dini kemudian dia banyak berkembara. Dia memberi kuliah di Bagdad tepatnya  di Madrasah Nizhamiyyah selama 4 tahun dan menjadi seorang yang sangat terkenal dan mempunyai mahasiswa yang cukup banyak dan bersamaan dengan itu dia menekuni kajian filsafat  lewat bacaan pribadi dan menulis sejumlah buku. Namun dia terkena penyakit fisik sehingga tidak bisa lagi memberi kuliah, kemudian Al-Ghazali meninggalkan Bagdad dengan dalil haji. Selama Al-Ghazali hidup dia membuat beberapa karya, disamping tulisan-tulisan awalnya tentang jurisprudensi (fiqh), karya petama ketika Al-Ghazali berbicara tentang etika adalah Maqashiid Al-Falasifah, Al-Ghazali menentang hampir semua doktrin Aristoteles dan Plotinus serta para filosof Muslim pendukungnya.


 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, amin. 2002. Filsafat Etika Islam. Bandung : Mizan



[1] Abdullah, amin. 2002. Filsafat Etika Islam. Bandung : Mizan

[2] Abdullah, amin. 2002. Filsafat Etika Islam. Bandung : Mizan

[3] Abdullah, amin. 2002. Filsafat Etika Islam. Bandung : Mizan

Komentar

Postingan Populer