MULLA SADRA DAN KARYA SERTA PEMIKIRAN FILSAFATNYA
MULLA SADRA
DAN KARYA SERTA PEMIKIRAN
FILSAFATNYA
OLEH : ALIF PURNIAWAN
PROGAM STUDI
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ) WONOSOBO JAWA TENGAH
Abstrak :
Di
antara banyak tokoh filsuf safawiyah terkemuka salah satunya adalah Mulla Sadra Nama aslinya adalah Muhammad b. Ibrahim b. Yahya al-Qawami al-Syirazi,
dengan gelar "Shadr al-Din" atau "Shadr al-Muta'alihin". Sadra populer dengan
dengan pemikirannya al-Hikmah al-Muta’aliyah yang diperkenalkan oleh ‘Abd
al-Razzaq Lahiji (w.1072 H/1661 M). Kata hikmah itu sama dengan kata falsafah,
Sadra menyebut kata hikmah maksudnya al-Hikmah al-Muta’aliyah adalah
kesempurnaan jiwa manusia melalui pengetahuan terhadap realitas segala sesuatu
yang ada sebagai mana adanya. Shadra tidak puas dengan perkembangan ilmu yang
ditekuninya, kemudian ia mencari dimensi kehidupan yang lain dan menjalani
pelatiahn spiritual, sejalan dengan itu ia menciptakan filsafat wujud, aliran
ini memiliki karakter lebih mementingkan kebenaran dari pada orisionalitas, dan
kunci penting pada aliran ini adalah sifat wujud, banyak juga yang menyebutkan sebagai
eksistensialisme Islam. Shadra juga membedakan secara tegas antara wujud dan
realitasnya.
A.
PENDAHULUAN
Ilmu
pengetahuan di dunia Islam sangat berkembang pesat dengan berbagai disiplin
ilmu yang ada, sehingga membawa Islam kepada puncak peradaban. Semua itu,
dibangun di atas pondasi kuat lewat pola interaksi serta asimilasi antar lintas
sosial, kultural, bahasa, bangsa dan agama.
Salah
satu disiplin ilmu yang berpengaruh besar pada perkembangan dan kelangsungan
ilmu-ilmu yang lain adalah filsafat, yang digarap oleh para pemikir Muslim yang bersumber dari
Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Isu penting dan selalu mengundang
perdebatan antar filsuf adalah bahasan tentang “wujud”. Bagi sebagian kalangan,
definisi tentang “wujud” adalah suatu konsep yang paling abstrak yang tidak
bisa didefinisikan atau dijelaskan dengan konsep-konsep lain. Dalam filsafat
Islam, inti yang mendasari realitas adalah “wujud” yang kerap dikaitkan dengan
Tuhan. Pembicaraan tentang realitas ini, bila dikategorikan, terbagi atas dua
bagian yakni eksistensi dan esensi. Di dalam tulisan ini, akan dipaparkan gagasan
Mulla Sadra tentang eksistensi dan esensi tersebut.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana
riwayat hidup Mulla Sadra
2.
Apa karya Mulla Sadra
3.
Apa
filsafat dari Mulla Sadra
C.
PEMBAHASAN
1.
RIWAYAT HIDUP MULLA SADRA
Nama
lengkapnya adalah Muhammad bin Ibrahim bin Yahya al-Qowami al-Syirazi, yang
bergelar “Sadr al-Din”. Nama populernya adalah Mulla Sadara. Sadara dilahirkan
di Syiraz sekitar tahun 979/1571 dalam sebuah keluarga yang cukup berpengaruh
dan terkenal, yaitu keluarga Qawam. Ayahnya adalah Ibrahim bin Yahya al-Qowami
al-Syirazi. Adalah seorang yang berilmu dan saleh. Ayahnya ini seorang tokoh
sosial dan politik yang sangat berpengaruh di Kotanya dan emnduduki jabatan
sebagai Gubernur Profinsi Fars. Dikalangan para pengikutnya, Mulla Sadra
dikenal dengan panggilan Akhun atau Sadr al-Muta’allihin, artinya seorang
terkemuka diantara filosof-filosof lain. Seajak usia dini, ia telah
memperlihatkan tingkat kesalihan yang tinggi disertai integensia yang tajam.
Dengan pengetahuan yang kuat terhadap bahasa Arab dan Persia, al-Qur’an dan
Hadis serta disiplin-disiplin dasar keislaman lainnya, dia memiliki kesiapan
untuk lebih memperluas cakrawala intelektualnya.
Merasa tidak puas dengan ilmu yang diperolehnya si Syiraz, dia
berangkat ke Isfahan. Ketika itu Isfahan telah menjadi pusat intelektual yang
penting di Persia. Isfahan memberinya kepuasan dalam mereguk ilmu. Di kota ini,
ia menemukan guru-guru terkemuka. Belajar kepada para guru yang menguasai ilmu
mendalam membuat Sadra berkembang pesat. Ia dengan cepat menguasai ilmu-ilmu
keislaman. Dalam perkembangannya kemudian, ilmu yang dikuasai bahkan melampui
keilmuan gurunya.
Perkembangan terhadap keilmuan yang ditekuninya tidak
memberikan kepuasan sepenuhnya. Dalam perkembangannya kemudian, Sadra mencari
dimensi kehidupan yang lain, yaitu kehidupan asketik. Berkaitan dengan
pencarian ini, ia kemudian meninggalkan Isfahan yang kemudian menjalani
pelatihan spiritual di Kahak, sebuah desa terpencil dekat Qum.
Sadra memulai pengunduran dirinya dengan adanya perasaan tidak
puas terhadap dunia, watak dunia yang selalu tidak pasti, dan terutama karena
adanya motif-motif untuk memperoleh kemegahan duniawi yang secara umum terdapat
para intelektual ketika itu. Disamping itu pengunduran dirinya juga didorong
oleh motivasi perasaan bersalah karena hasil dari renungannya, ia merasa
bergantung pada kemampuan intelektualnya sendiri dan bukan menghambakan diri
kepada kehendak dan kekuasaan Tuhan dengan jiwa yang suci dan ikhlas.
Selama periode menetap di Kahak, Sadra memperoleh visi
spiritual melalui disiplin spriritual yang berupa dzir dan fikir. Selama
periode ini, dia mengabdikan kehidupannya untuk melakukan berbagai kegiatan
spiritual. Hasilnya, Sadra muncul sebagai hakim yang tercerahkan, yang
mengalihkan persoalan-persoalan metafisika dan pemahaman yang bersifat
intelektual menjadi visi secara langsung.
Seiring
perjalanan waktu, masa kontemplasi Sadra akhirnya berkhir. Hal ini terjadi
terutama karena desakan berbagai pihak. Salah satunya adalah permintaan Syah
Abbas II(1642-1722M) yang memintanya agar kembali mengajar. Selain itu,
Gubernur Syiraz ketika itu, Allahwirdi Khan, membangun sebuah lembaga
pendidikan yang dilengkapi dengan sebuah masjid besar, Gubernur mengundangnya
untuk mengajar di madrasah tersebut.
Menuruti
permintaan tersebut, Sadra kembali ke kota asalnya. Selama periode ini, ia
menulis sebagian besar karya-karyanya
dan mendidik murid-muridnya. Popularitasnya semejak kembali segera
tersebar luas. Banyak posisi resmi yang ditawarkan kepadanya, tetapi semuanya
ditolak. Kemasyhurannya telah menimbulkan kecemburuan dikalangan masyarakat
ilmiah. Mereka melontarkan berbagai hunjatan tanpa bukti. Namun demikian, Sadra
menyadari bahwa hal semacam aini adalah hal yang harus dihadapinya.
Selama
jangka waktu selama 30 tahun, yang diisi dengan mengajar dan menulis, Mulla
Sadra melaksanakan ibadah haji sebanyak 7 kali. Itu semua dilakukannya dengan
jalan kaki. Sekembalinya dari perjalanan mennaikan ibadah haji yang ke-7 kaliya,
dia menderita sakit di Basrah dan meninngal dunia disana pada tahun 1050 H/1640
H.
Mulla
Sadra, panggilan polpilar Shadr al-Din al-Syirazi (w. 1641 M), telah menulis
bnayak karya agung filosofis, seperti Al-Syawahid al-Rubiyyah, Hikmah
al-Arsyiyyah, al-Masya’ir, dan yang terpenting dari semia itu karyanya telah
menjadi masterpiece-nya, al-Asfar al-Arba’ah fi al-Hikmah al-Muta’aliayah.[1]
2.
KARYA MULLA SADRA
Al-Hikmah al-Muta’aliyah
Mulla Sadra sendiri sesungguhnya tidak secara eksplisit mnyebut
al-Hikmah al-Muta’aliyah sebagai aliran filsafatnya. Figur pertama yang
mengenalkan adalah ‘Abd al-Razzaq Lahiji (w.1072 H/1661 M), salah seorang murid
dan menantunya yang sangat terkenal.
Menurut Sadra, kata hikmah itu sama dengan kata falsafah.
Dan ketika Sadra menyebut kata hikmah maksudnya al-Hikmah al-Muta’aliyah adalah
kesempurnaan jiwa manusia melalui pengetahuan terhadap realitas segala sesuatu
yang ada sebagai mana adanya, dan pembenarannya terhadap keberadaan mereka.
Yang dibangun berdasarkan bukti-bukti yang
jelas, bukti atas dasar persangkaan dan sekedar mengikuti pendapat orang
lain, sebatas kemampuan yang ada pada manusia.
Sebagai aliran yang bersifat tradisional, aliran ini
memiliki karakter lebih mementingkan kebenaran dari pada orisionalitas, rasa
memiliki terhadap dunia spiritual yang meliputinya, dan watak sistensinya yang
berusaha menyatukan berbagai aliran intelektual sebelumnya.
Aliran ini memang berbeda dengan aliran filsafat sebagai
mana yang berkembang dalam dunia modern. Oleh karena itu wajar jika ada yang
meragukannya. Berkaitan dengan munculnya keraguan ini, ada tiga hal yang
penting untuk diperhatikan. Pertama, sudah menjadi kebiasaan di dalam ilmu-ilmu
tradisional bahwa pengutipan terhadap sumber-sumber terdahulu yang biasanya
sudah dikenal, tidak menyebutkan nama pengarangnya. Kedua, sudah menjadi fakta
bahwa peminjaman terhadap suatu ide yang terdapat didalam tulisan-tulisan
sebelumnya, tidak mengurangi arti penting perkembangan melalui tulisan-tulisan
Mulla Sadra, apalagi ide tersebut memperoleh tambahan pemahaman yang baru.
Ketiga, Mulla Sadra sepenuhnya memahami ajaran yang terkandung dalam ucapan
Imam Ali “Perhatikan apa yang diucapkan, bukan siapa yang mengucapkannya”
Kinrja al-Hikmah al-Muta’aliyah ini memang menarik.
Sebagian aliran filsafat aspek penting yang selau ada adalah proses
penyelidikan. Penylidikan dalam filsafat bukan hanya sekedar penylidikan,tetapi
penyelidikan yang dilakukan secara menyeluruh dan kebenaran- kebenaran agama
melalui intuisi intelektual dan harmonisasinya dengan pembuktian-pembuktian
rasonal telah memberikan kepada Mulla Sadra berbagai fondasi, persoalan dan
kemungkinan baru dan kemungknan baru untuk membahas filosofis. Dari sinilah
Sadra kemudian menciptakan persoala-persoalan baru dan sekaligus menemukan
pandangan-pandangan baru . menemukan persoalan mungkin tidak sulit dilakukan,
tetapi yang sulit adalah menemukan jawabannya. Dan cara menemukan jawabannya
ini Sadra cukup menarik. Meurut Nur, model kerja Sadra ini tidak pernah bisa
ditemukan melalui pemikiran semata-mata. Itulah sebabnya mengapa dalam
al-Hikmah al-Muta’aliyah semangat filsafat diperbarui, dan sejumlah bembahasan
baru ditambah.[2]
3.
FILSAFAT WUJUD
Kata kunci penting dari aliran ini adalah “wujud”
sehingga ada yang menyebutkan sebagai eksistensialisme Islam. Sadra membedakan
secara tegas antara wujud dan realitasnya. Secara konseptual, wujud merupakan
suatu konsep yang paling universal dan paling dikenal diantara seluruh konsep
yang ada.
Eksistensialisme merupakan salah satu aliran filsafat
pepnting yang tumbuh dan berkembang dalam filsafat modern. Salah seorang
tokohnya adalah Kari Jaspers. Menurut Jaspers, eksistensi adalah aspek yang
paling berharga dan paling otentik dalam diri manusia. Eksistensi adalah aku
yang sebenarnya, yang bersifat unik dan sama sekali tidak obyektif. Dengan tak
henti-hentiya eksistensi itu terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan baru. Biarpun
pendekatan konseptual tidak sanggup mencapai eksisteni, namun eksistensi itu
terbuka bagi pengalaman.
Memahami sifat wujud memang buka sesuatu yang mudah
karena ini merupakan sesuatu yang memiliki kompleksilitas tinggi. Namun
demikian, uraian Hadir Bagir barangkali mampu memberikan kejalasan mengenai apa
yang dimaksud dengan sifat wujud ini. Kata Bagir kita biasa menggunakan
proposisi dalam percakapan kita yang subjeknya nomina (kata benda) dan
predikatnya ajektiva (kata sifat). Misalnya, kalimat “meja itu maujud/ada (the table is existent)”. Menurut
al-Hikmah al-Muta’aliyah bagir menyebutna sebagai “filsafat hikmah” pernyataan
yang dipahami dalam pengertian hubungan substansi aksiden sperti itu
sesungguhnya tak bermakna. Karena dalam dunia realitas-luaran (the realm of external reality) pertama-tama,
tidak ada substansi sendiri (self
subsistent) yang dapat disebut sebagai
meja. Juga tidak ada “aksiden” sejati yang dapat disebut “eksistensi” yang
datang (dari luar untuk berdiam) ke dalam substansi. Dilihat dengan cara ini,
maka keseluruhan fenomena meja yang disebut “eksistensi” itu kemudian berubah
menjadi sesuatu seperti gambar bayang-bayang, sesuatu yang tidak sepenuhnya
ilusi, tetapi memiliki sifat-sifat seperti ilusi.
Para filosof
hikmah tidak mengatakan bahwa dunia realitas (the word of reality) yang kita serap dalam pengalaman kehidupan
ini pada dirinya sendiri adalah tidak nyata atau mimpi. Tidak juga mereka
hendak menugaskan bahwa pernyataan “meja itu ada” tidak merujuk sama sekali
pada realitas luaran (external reality).
Pernyataan tersebut
jelas berkaitan dengan realitas tertentu. Yang hendak mereka tunjukkan
sebenarnya adalah bahwa struktur realitas luaran yang berkaitan dengan pernyataan
tersebut adalah berbeda sama sekali dengan yang lazimnya dinyatakan oleh suatu
pernyataan, yang didalamnya seolah-olah ada dua realirtas: ke-meja-an dan wujud
(eksistensi). Sebab, dalam wilayah ini, “eksistensi” (wujud) adalah
satu-satunya realitas. “Meja” di dalam realitas luaran ini tidak lain adalah
suatu modifikasi dalaman (an inner
modification) dari realitas ini, salah satu dari pengungkapan diri realitas
itu yang dibentuk oleh kategori-kategori yang “dipaksakan” oleh (keterbatsan)
persepsi inderai dan abstraksi mental kita. Dalam dunia relitas luaran, subjek
dan predikat harus bertukar tempat “meja” itu dalam realitas luaran ini adalah
subjek logis dan sekaligus subjek gramatikal dari pernyataan tersebut. Dalam
kenyataannya, “meja” itu bukannlah suatu objek, melainkan predikat. Subjek yang
sejati adalah “eksistensi”, sedangkan meja tidak lain adalah aksiden yang
menentukan bagaimana subjek menampakkan diri sebagai suatu hal tertentu. Pada
hakikatnya, apa yang disebut sebagai “esensi” pada realitas luarnya tidak lain adalah
aksiden yang mengubah dan membatasi satu realitas tungga, yang disebut eksistensi.
Itu menjadi berbagai maujud yang tak terhitung jumlahnya. “Eksistensi” dalam
pengertian inilah yang sesungguhnya melandasi semua realitas, entah konkret
atau abstrak. Dan eksistensi pada makna inilah yang menurut para filosof filsafat hikmah, termasuk Sadra, yang menjadi
objek tertinggi pengetahuan.
Sejalan dengan itu, maujud-maujud dalam filsafat hikmah terbagi dalam tingkatan-tingkatan,
mulai dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Pada saat yang sama,
melalui proses gerak substansial (al-harakah
al-jauhariyah), mujud senantiasa bergerak atau berpindah dari satu
tingkatan ke tingkatan lainnya, melahirkan tasykik
al-wujud (ambiguitas wujud). Yakni sesuatu wijud yang tidak pernah
benar-benar ada dalam keadaan sesuatu yang teapat melainkan terus mengada.
Maujud itu selalu merupakan suatu kombinasi ”maujud” yang sebelumnya, yang
sekarang dan yang akan datang. Semuanya menjadi satu akibat perubahan yang
berkesinambungan.
Filsafat hikmah mempercayai bahwa pengetahuan itu tidak
dipeloreh melalui penalaran rasional, tetapi hanya melalui sejenis intusi,yakni
penyaksian batin, cita rasa, pencerahan atau kehadiran. Kerna sifat menghadir
dari pengetahuan inilah yang sejalan dengan itu, disebut juga ilmu lewat
kehadiran (Ilmu Huduri), madzab ini dikenal sebagai semacam mistisisme. Di
sini, pengetahuan tidak lagi berfsifat representasional, melainkan
eksistensial.[3]
D.
KESIMPULAN
Di dalam
bangunan Filsafat al-Hikmah al-Muta’āliyyah Sadra, tergambar
jelas Mulla Sadra melakukan
harmonisasi semua elemen filsafat sebelumnya sehingga membentuk warna baru yang
masing-masing kesatuan saling terkait dan mendukung satu sama lain. Kita
kemudian dapat menemukan posisi filsafat al-Hikmah al-Muta’āliyyah yang
jelas-jelas memunculkan sebuah warna baru diantara aliran filsafat yang ada.
Karakteristik
al-hikmah al-muta’aliyah yang bersifat sintesis merupakan hasil kombinasi dan
harmonisasi dari ajaran-ajaran wahyu, ucapan-ucapan para Imam,
kebenaran-kebenaran yang diperoleh melalui penghayatan spiritual dan iluminasi
intelektual, serta tuntutan-tuntutan logika dan pembuktian rasional. Sintesis
dan harmonisasi ini bertujuan untuk memadukan pengetahuan yang diperoleh
melalui sarana Sufisme atau ’irfan, Iluminasionisme atau isyraqiyyah,
filsafat rasional atau yang identik dengan Peripatetik atau masysya’iyyah, dan
ilmu-ilmu keagamaan dalam arti sempit, termasuk kalam. Dengan demikian,
kemunculannya tidak dapat dipisahkan dari, dan harus dilihat dalam konteks
aliran-aliran pemikiran Islam yang mendahuluinya.
Kata
Bagir tentang wujud, kita biasa menggunakan proposisi dalam percakapan kita
yang subjeknya nomina (kata benda) dan predikatnya ajektiva (kata sifat).
Menurut al-Hikmah al-Muta’aliyah bagir menyebutna sebagai “filsafat hikmah” pernyataan
yang dipahami dalam pengertian hubungan substansi aksiden sperti itu
sesungguhnya tak bermakna. Karena dalam dunia realitas-luaran (the realm of external reality) pertama-tama,
tidak ada substansi sendiri (self
subsistent) yang dapat disebut sebagai
meja. Juga tidak ada “aksiden” sejati yang dapat disebut “eksistensi” yang
datang (dari luar untuk berdiam) ke dalam substansi. Dilihat dengan cara ini,
maka keseluruhan fenomena meja yang disebut “eksistensi” itu kemudian berubah
menjadi sesuatu seperti gambar bayang-bayang, sesuatu yang tidak sepenuhnya
ilusi, tetapi memiliki sifat-sifat seperti ilusi.
DAFTAR PUSTAKA
Maftukhin, Ngainun Naim (ed). 2012. Filsafat Islam. Yogyakarta: Teras
Murtiningsih, Wahyu, Anindita (ed). 2008. Biografi para ilmuan muslim. Biografi para
ilmuan muslim.Yogyakarta: Insan Madani

Komentar
Posting Komentar