FUNGSI DAN KEDUDUKAN BAHASA BAKU


FUNGSI DAN KEDUDUKAN BAHASA BAKU

KATA PENGANTAR

 

     Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat beserta salam kami curahkan kepada Rasulullah S.A.W.

     Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca.

     Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik.

 

 

Wonosobo, 27 September 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

BAB I. 1

PENDAHULUAN.. 1

1.    Latar Belakang Masalah. 1

2.    Rumusan Masalah. 1

3.    Tujuan Penulisan. 1

BAB II. 2

PEMBAHASAN.. 2

1.    Pengertian Bahasa Baku. 2

2.    Fungsi Bahasa Baku. 3

3.    Ragam Baku dan Tidak Baku. 3

4.    Kalimat Baku dan Tidak Baku. 4

1)    Kalimat tidak baku. 4

2)    Kalimat baku. 4

5.    Kata Baku dan Tidak Baku. 5

BAB III. 7

PENUTUP. 7

1.    Kesimpulan. 7

DAFTAR PUSTAKA.. 8

 


 


BAB I

PENDAHULUAN

1.   Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dengan sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa bisa berisi pikiran, keinginan, atau perasaan yang ada pada diri si pembicara. Bahasa yang digunakan hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan dapat diterima oleh pendengar. Sejak dahulu masyarakat telah mengenal istilah bahasa baku, namun istilah yang dikenal ini tidak menjamin bahwa masyarakat memahami secara komprehensif konsep dan makna istilah bahasa baku ini. Hal ini terbukti bahwa masih banyak masyarakat yang  berpendapat bahwa  bahasa baku sama artinya dengan bahasa yang baik dan benar. Masyarakat belum  mampu membedakan antara bahasa yang baku dan yang nonbaku. Menurut seorang ahli bernama Pateda mengatakan bahwa, “Kita berusaha agar dalam situasi resmi kita harus berbahasa yang baku. Begitu juga dalam situasi yang tidak resmi kita berusaha menggunakan bahasa yang baku.” (Alwi, 1997:30).

2.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat ditarik permasalahan sebagai berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan bahasa baku?

2. Apa fungsi bahasa baku?

3. Bagaimana membedakan bahasa baku dan tidak baku?

3.   Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Menjelaskan pengertian bahasa baku

2. Menjelaskan fungsi bahsasa baku

3. Menjelaskan bagaimana membedakan bahasa baku dan tidak baku

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

1.   Pengertian Bahasa Baku

Menurut castel sampai dengan abad ke-18 bahasa yang menjadi lingua-france masyarakat Jakarta adalah sebentuk bahasa portugis, yaitu salah satu dialek yang dipergunakan oleh bangsa campuran yang datang ke Jakarta dari india sebagai budak (castles, 1967:158). Tetapi pernyataaan Abdurrachman Surjomiharjo barangkali lebih masuk akal ; berdampingan dengan bahasa melayu dipakai dialek portugis sebagai bahasa pergaulan di Jakarta (1976:27).

Pada akhir abad ke-19 bersama dengan larutnya berbagai bangsa dan suku bangsa menjadi suku bangsa baru yang kemudian dikenal dengan “suku betawi” , bahasa portugis itu berangsur menghilang digantikan oleh bahasa melayu yang kini kita kenal dengan nama Dialek Jakarta. Dan pada awal abad ke -20, ketika di Indonesia timbul berbagai organisasi yang bersifat kesukuan seperti budi utomo, serikat sumatra, serikat Ambon. Pada tahun 1923 berdirilah organisasi kaum betawi. suatu pernyataan secara sadar adanya suku betawi (Surjomihardjo)

Pengertian bahasa baku:

1)   Bahasa baku atau bahasa standar adalah ragam bahasa yang berkekuatan sanksi sosial dan yangditerima masyarakat bahasa sebagai acuan atau model (Moeliono, 1989:43).

2)   Bahasa Indonesia baku adalah ragam bahasa yang mengikuti kaidah bahasa Indonesia, baik yang menyangkut ejaan, lafal, bentuk kata, struktur kalimat, maupun penggunaan bahasa  (Junaiyah, 1991:18).

3)   Bahasa baku ialah suatu bentuk pemakaian bahasa yang menjadi model yang dapat dicontoh oleh setiap pemakai bahasa yang hendak berbahasa secara benar (Moeljono, 1989:23).

4)   Bahasa baku atau bahasa standar ialah ragam bahasa atau dialek yang diterima atau dipakai dalam situasi resmi, seperti dalam perundang-udangan, surat-menyurat resmi, dan berbicara di depan umum (Kridalaksana, 1982:21).

 

2.   Fungsi Bahasa Baku

 Behaviorisme dalam psikologi merupakan satu aliran empiris Pandangan mereka tentang  bahasa pun merupakan pandangan empiris. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa “bahasa merupakan salah satu wujud tingkah laku manusia yang dinyatakan secara verbal atau dengan kata-kata”.Jadi, dengan kata lain bahasa merupakan wujud perilaku manusia yang dapat ditangkap oleh pancaindra.

Pandangan empirisme berpendapat semua keterampilan manusia diperoleh dengan proses belajar. Dan manusia sejak lahir telah dilengkapi dengan kemampuan belajar. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa diperoleh lewat proses belajar. Ini mengisyaratkan  bahwa bahasa harus dipelajari. Kemampuan berbahasa adalah satu kemampuan hasil belajar dan bukan diwariskan.

Penggunaan bahasa baku memiliki fungsi sebagai berikut.

1)   Pemersatu, pemakaian bahasa baku dapat mempersatukan sekelompok orang menjadi satu kesatuan masyarakat bahasa.

2)   Pemberi keikhlasan , pemakaian bahasa baku dapat menjadi pembeda dengan masyarakat pemakai bahasa lainnya.

3)   Pembawa kewibawaan, pemakaian bahasa baku dapat memperlihatkan kewibawaan pemakainya.

4)   Kerangka acuan, bahasa baku menjadi tolak ukur benar atau tidaknya pemakaian bahasa seseorang atau sekelompok orang.

 

3.   Ragam Baku dan Tidak Baku

Sebenarnya dalam ragam tulis dan ragam lisan juga bisa ditelaah dari segi baku atau tidak bakunya bahasa yang digunakan penutur atau penulis. Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya (Arifin dan Tasai, 2002:18). Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dikembangkan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku.  Lebih jauh dijelaskan oleh Arifin  dan Tasai bahwa ragam baku mempunyai sifat-sifat tertentu yang jika diringkas, yaitu: adanya kemantapan dinamis (sesuai dengan kaidah bahasa dan tidak statis), cendekia (karena dipakai pada tempat-tempat resmi), dan adanya keseragaman  (karena proses pembakuan men proses pembakuan).

 

Ciri-Ciri Kata atau Bahasa Baku

1)   Bukan merupakan bahasa percakapan.

Contohnya: tidak (baku) dan enggak (tidak baku)

2)   Tidak dipengaruhi bahasa daerah.

Contohnya: mengapa (baku) dan kenapa (tidak baku)

3)   Pemakaian imbuhan secara eksplisit (nyata).

Contohnya: ia bekerja keras (baku) dan ia kerja keras (tidak baku)

4)   Tidak dipengaruhi bahasa asing.

Contohnya: kesempatan lain (baku) dan lain kesempatan (tidak baku)

5)   Sesuai dengan konteks.

Contohnya: lebih besar daripada (baku) dan lebih besar dari (tidak baku)

6)   Tidak terkontaminasi (rancu).

Contohnya: mengesampingkan (baku) dan mengenyampingkan (tidak baku)

7)   Tidak mengandung arti pleonasme (berlebih-lebihan).

Contohnya: para tamu (baku) dan para tamu-tamu (tidak baku)

8)      Tidak mengandung hiperkorek (berlebihan).

Contohnya: anggota (baku) dan anggouta (tidak baku)

 

4.   Kalimat Baku dan Tidak Baku

1)   Kalimat tidak baku

a.    Semua peserta daripada pertemuan itu sudah pada hadir.

b.   Kami menghaturkan terima kasih atas kehadirannya.

c.    Mengenai masalah ketunaan karya perlu segera diselesaikan dengan tuntas.

d.   Sebelum mengarang terlebih dahulu tentukanlah tema karangan.

e.    Pertandingan itu akan berlangsung antara regu A melawan regu B.

f.     Kita perlu pemikiran-pemikiran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan pengembangan kota.

 

2)   Kalimat baku

a.    Semua peserta pertemuan itu sudah hadir.

b.   Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran saudara.

c.    Masalah ketunakaryaan perlu segera diselesaikan dengan tuntas.

d.   Sebelum mengarang, tentukanlah tema karangan.

e.    Pertandingan itu akan berlangsung antara regu A dan regu B.

f.     Kita memerlukan pemikiran untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pelaksanaaan pengembangan kota.

         Contoh ragam tidak baku (a) dan ragam baku (b)

a.    Bilang dahulu dong sama saya punya bini.

b.   Bicarakan dahulu dengan istri saya.

 

a.    Memang kebangetan itu anak belum mandi sudah makan gado-gado.

b.   Memang keterlaluan anak itu belum mandi sudah makan gado-gado.

 

5.   Kata Baku dan Tidak Baku

Kata Baku

Kata Tidak Baku

Aerobik

Erobik

Ekstrem

Ekstrim

Geladi

Gladi

Insaf

Insyaf

Jadwal

Jadual

Karier

Karir

Khawatir

Kuatir

Khotbah

Khutbah

Kompleks

Komplek

Kongres

Konggres

Manajemen

Managemen

Metode

Metoda

Misi

Misi

Nahkoda

Nakoda

Prangko

Perangko

Stasiun

Setasiun

Sutera

Sutra

Teknik

Tehnik

Terampil

Trampil

 

     

Adapun penulisan kata yang benar yaitu :

Benar

Salah

Amir, S.H.

Amir SH. (Sarjana Hukum)

Angkatan IV

Angkatan ke-IV

antarnegara

antar negara

daripada

dari pada

KBRI

K.B.R.I

Kuitansi

kwitansi

saya pun

sayapun

Si pengirim

sipengirim

Uang 500-an

Uang 500an

5 g

5 gr

10 km

10 km.

6 l

6 Lt


BAB III

 

PENUTUP

1.      Kesimpulan

Dapat kita simpulkan bahwa bahasa baku merupakan salah satu bentuk ragam bahasa, yang tercermin dengan penggunaan kaidah secara benar (ejaan, lafal, struktur, dan pemakaiannya). Bahasa baku menjadi acuan atau model oleh masyarakat pemakai bahasa dan digunakan dalam situasi resmi.

Dari pengertian bahasa baku di atas, maka yang disebut dengan kata baku adalah kata yang ditulis dan diucapkan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Bahasa baku memiliki fungsi sebagai pemersatu bahasa, penanda kepribadian, penambah wibawa dan menjadi kerangka acuan yaitu bahasa baku menjadi tolak ukur benar atau tidaknya pemakaian bahasa seseorang atau sekelompok orang

Untuk mengetahui bahasa baku, kita dapat melihat ciri cirinya, antara lain bahasa baku bukan merupakan bahasa percakapan, tidak dipengaruhi bahasa daerah dan bahasa asing, pemakaian imbuhan dalam bahasa baku adalah secara eksplisit (nyata), sesuai dengan konteks yang ada, tidak terkontaminasi (rancu), tidak mengandung arti pleonasme (berlebih-lebihan), dan tidak mengandung hiperkorek (berlebihan).


DAFTAR PUSTAKA

 

Muhadjir. Djoko Kentjono.1979.Fungsi dan Kedudukan Dialek Jakarta.Jakarta:Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Musaba,Zulkifli.2012.Bahasa Indonesia untuk Mahasaiswa.Yogyakarta:CV. Aswaja Pressindo.

Sugono,Dendi.2003.Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid I.Jakarta: Pusat Bahasa dan Pendidikan Nasional.

 

Komentar