FUNGSI DAN KEDUDUKAN BAHASA BAKU
FUNGSI DAN KEDUDUKAN BAHASA BAKU
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat beserta
salam kami curahkan kepada Rasulullah S.A.W.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah
berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun
dengan baik dan rapi.kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan
para pembaca.
Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari
kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang
bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik.
Wonosobo,
27 September 2019
DAFTAR ISI
4. Kalimat Baku dan
Tidak Baku
BAB I
PENDAHULUAN
Bahasa merupakan alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi
dengan sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa bisa berisi
pikiran, keinginan, atau perasaan yang ada pada diri si pembicara. Bahasa yang
digunakan hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang
dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan dapat diterima oleh pendengar. Sejak
dahulu masyarakat telah mengenal istilah bahasa baku, namun istilah yang
dikenal ini tidak menjamin bahwa masyarakat memahami secara komprehensif konsep dan makna istilah
bahasa baku ini. Hal ini terbukti bahwa masih banyak masyarakat yang
berpendapat bahwa bahasa baku sama artinya dengan bahasa yang baik dan
benar. Masyarakat belum mampu membedakan antara bahasa yang baku dan yang
nonbaku. Menurut seorang ahli bernama Pateda mengatakan bahwa, “Kita berusaha
agar dalam situasi resmi kita harus berbahasa yang baku. Begitu juga dalam
situasi yang tidak resmi kita berusaha menggunakan bahasa yang baku.” (Alwi,
1997:30).
Berdasarkan latar
belakang diatas maka dapat ditarik permasalahan sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan bahasa baku?
2. Apa fungsi bahasa baku?
3. Bagaimana membedakan bahasa baku dan tidak
baku?
Adapun tujuan dari
penulisan makalah ini adalah:
1. Menjelaskan pengertian bahasa baku
2. Menjelaskan fungsi bahsasa baku
3. Menjelaskan bagaimana membedakan bahasa
baku dan tidak baku
BAB II
PEMBAHASAN
Menurut castel sampai dengan abad ke-18 bahasa yang
menjadi lingua-france masyarakat
Jakarta adalah sebentuk bahasa portugis, yaitu salah satu dialek yang
dipergunakan oleh bangsa campuran yang datang ke Jakarta dari india sebagai
budak (castles, 1967:158). Tetapi pernyataaan Abdurrachman Surjomiharjo
barangkali lebih masuk akal ; berdampingan dengan bahasa melayu dipakai dialek
portugis sebagai bahasa pergaulan di Jakarta (1976:27).
Pada akhir abad ke-19 bersama dengan larutnya berbagai
bangsa dan suku bangsa menjadi suku bangsa baru yang kemudian dikenal dengan
“suku betawi” , bahasa portugis itu berangsur menghilang digantikan oleh bahasa
melayu yang kini kita kenal dengan nama Dialek Jakarta. Dan pada awal abad ke
-20, ketika di Indonesia timbul berbagai organisasi yang bersifat kesukuan
seperti budi utomo, serikat sumatra, serikat Ambon. Pada tahun 1923 berdirilah
organisasi kaum betawi. suatu pernyataan secara sadar adanya suku betawi (Surjomihardjo)
Pengertian
bahasa baku:
1)
Bahasa baku
atau bahasa standar adalah ragam bahasa yang berkekuatan sanksi sosial dan
yangditerima masyarakat bahasa sebagai acuan atau model (Moeliono, 1989:43).
2)
Bahasa
Indonesia baku adalah ragam bahasa yang mengikuti kaidah bahasa Indonesia, baik
yang menyangkut ejaan, lafal, bentuk kata, struktur kalimat, maupun penggunaan
bahasa (Junaiyah, 1991:18).
3)
Bahasa baku
ialah suatu bentuk pemakaian bahasa yang menjadi model yang dapat dicontoh oleh
setiap pemakai bahasa yang hendak berbahasa secara benar (Moeljono, 1989:23).
4)
Bahasa baku
atau bahasa standar ialah ragam bahasa atau dialek yang diterima atau dipakai
dalam situasi resmi, seperti dalam perundang-udangan, surat-menyurat resmi, dan
berbicara di depan umum (Kridalaksana, 1982:21).
Behaviorisme dalam psikologi merupakan satu
aliran empiris Pandangan mereka tentang
bahasa pun merupakan pandangan empiris. Oleh karena itu, mereka
berpendapat bahwa “bahasa merupakan salah satu wujud tingkah laku manusia yang
dinyatakan secara verbal atau dengan kata-kata”.Jadi, dengan kata lain bahasa
merupakan wujud perilaku manusia yang dapat ditangkap oleh pancaindra.
Pandangan empirisme
berpendapat semua keterampilan manusia diperoleh dengan proses belajar. Dan
manusia sejak lahir telah dilengkapi dengan kemampuan belajar. Oleh karena itu,
kemampuan berbahasa diperoleh lewat proses belajar. Ini mengisyaratkan bahwa bahasa harus dipelajari. Kemampuan
berbahasa adalah satu kemampuan hasil belajar dan bukan diwariskan.
Penggunaan bahasa baku memiliki fungsi
sebagai berikut.
1)
Pemersatu, pemakaian
bahasa baku dapat mempersatukan sekelompok orang menjadi satu kesatuan
masyarakat bahasa.
2)
Pemberi keikhlasan ,
pemakaian bahasa baku dapat menjadi pembeda dengan masyarakat pemakai bahasa
lainnya.
3)
Pembawa kewibawaan,
pemakaian bahasa baku dapat memperlihatkan kewibawaan pemakainya.
4)
Kerangka acuan,
bahasa baku menjadi tolak ukur benar atau tidaknya pemakaian bahasa seseorang
atau sekelompok orang.
Sebenarnya dalam
ragam tulis dan ragam lisan juga bisa ditelaah dari segi baku atau tidak
bakunya bahasa yang digunakan penutur atau penulis. Ragam baku adalah ragam
yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar masyarakat pemakainya sebagai
bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya
(Arifin dan Tasai, 2002:18). Ragam
tidak baku adalah ragam yang tidak dikembangkan dan ditandai oleh ciri-ciri
yang menyimpang dari norma ragam baku.
Lebih jauh dijelaskan oleh Arifin
dan Tasai bahwa ragam baku mempunyai sifat-sifat tertentu yang jika
diringkas, yaitu: adanya kemantapan dinamis (sesuai dengan kaidah bahasa dan
tidak statis), cendekia (karena dipakai pada tempat-tempat resmi), dan adanya
keseragaman (karena proses pembakuan
men proses pembakuan).
Ciri-Ciri
Kata atau Bahasa Baku
1)
Bukan merupakan bahasa percakapan.
Contohnya: tidak (baku) dan enggak (tidak baku)
2)
Tidak dipengaruhi bahasa daerah.
Contohnya: mengapa (baku) dan kenapa (tidak baku)
3)
Pemakaian imbuhan secara eksplisit (nyata).
Contohnya: ia bekerja keras (baku) dan ia kerja
keras (tidak baku)
4)
Tidak dipengaruhi bahasa asing.
Contohnya: kesempatan lain (baku) dan lain
kesempatan (tidak baku)
5)
Sesuai dengan konteks.
Contohnya: lebih besar daripada (baku) dan lebih
besar dari (tidak baku)
6)
Tidak terkontaminasi (rancu).
Contohnya: mengesampingkan (baku) dan
mengenyampingkan (tidak baku)
7)
Tidak mengandung arti pleonasme (berlebih-lebihan).
Contohnya:
para tamu (baku) dan para tamu-tamu (tidak baku)
8)
Tidak mengandung hiperkorek (berlebihan).
Contohnya: anggota (baku) dan anggouta (tidak baku)
4. Kalimat Baku dan Tidak Baku
a.
Semua
peserta daripada pertemuan itu sudah pada hadir.
b.
Kami
menghaturkan terima kasih atas kehadirannya.
c.
Mengenai
masalah ketunaan karya perlu segera diselesaikan dengan tuntas.
d.
Sebelum
mengarang terlebih dahulu tentukanlah tema karangan.
e.
Pertandingan
itu akan berlangsung antara regu A melawan regu B.
f.
Kita
perlu pemikiran-pemikiran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan
dengan pelaksanaan pengembangan kota.
a.
Semua
peserta pertemuan itu sudah hadir.
b.
Kami
mengucapkan terima kasih atas kehadiran saudara.
c.
Masalah
ketunakaryaan perlu segera diselesaikan dengan tuntas.
d.
Sebelum
mengarang, tentukanlah tema karangan.
e.
Pertandingan
itu akan berlangsung antara regu A dan regu B.
f.
Kita
memerlukan pemikiran untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan
pelaksanaaan pengembangan kota.
Contoh ragam tidak baku (a) dan ragam baku (b)
a. Bilang dahulu dong sama saya punya bini.
b. Bicarakan dahulu dengan istri saya.
a. Memang kebangetan itu anak belum mandi
sudah makan gado-gado.
b. Memang keterlaluan anak itu belum mandi
sudah makan gado-gado.
|
Kata Baku |
Kata Tidak Baku |
|
Aerobik |
Erobik |
|
Ekstrem |
Ekstrim |
|
Geladi |
Gladi |
|
Insaf |
Insyaf |
|
Jadwal |
Jadual |
|
Karier |
Karir |
|
Khawatir |
Kuatir |
|
Khotbah |
Khutbah |
|
Kompleks |
Komplek |
|
Kongres |
Konggres |
|
Manajemen |
Managemen |
|
Metode |
Metoda |
|
Misi |
Misi |
|
Nahkoda |
Nakoda |
|
Prangko |
Perangko |
|
Stasiun |
Setasiun |
|
Sutera |
Sutra |
|
Teknik |
Tehnik |
|
Terampil |
Trampil |
Adapun penulisan kata
yang benar yaitu :
|
Benar |
Salah |
|
Amir,
S.H. |
Amir
SH. (Sarjana Hukum) |
|
Angkatan
IV |
Angkatan
ke-IV |
|
antarnegara |
antar
negara |
|
daripada |
dari
pada |
|
KBRI |
K.B.R.I |
|
Kuitansi |
kwitansi |
|
saya
pun |
sayapun |
|
Si
pengirim |
sipengirim |
|
Uang
500-an |
Uang
500an |
|
5 g |
5 gr |
|
10 km |
10
km. |
|
6 l |
6 Lt |
Dapat
kita simpulkan bahwa bahasa baku
merupakan salah satu bentuk ragam bahasa, yang tercermin dengan penggunaan kaidah secara benar
(ejaan, lafal, struktur,
dan pemakaiannya). Bahasa baku menjadi acuan
atau model oleh masyarakat pemakai bahasa dan digunakan
dalam situasi resmi.
Dari
pengertian bahasa baku di atas, maka yang disebut dengan kata baku adalah kata
yang ditulis dan diucapkan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Bahasa baku memiliki fungsi
sebagai pemersatu bahasa, penanda kepribadian, penambah wibawa dan menjadi
kerangka acuan yaitu bahasa
baku menjadi tolak ukur benar atau tidaknya pemakaian bahasa seseorang atau
sekelompok orang
Untuk mengetahui bahasa baku, kita dapat melihat ciri cirinya, antara lain
bahasa baku bukan merupakan bahasa percakapan, tidak dipengaruhi bahasa daerah dan
bahasa asing, pemakaian imbuhan dalam bahasa baku adalah secara eksplisit
(nyata), sesuai dengan konteks yang ada, tidak terkontaminasi (rancu), tidak
mengandung arti pleonasme (berlebih-lebihan), dan tidak mengandung hiperkorek
(berlebihan).
Muhadjir. Djoko Kentjono.1979.Fungsi dan Kedudukan Dialek Jakarta.Jakarta:Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Musaba,Zulkifli.2012.Bahasa Indonesia untuk Mahasaiswa.Yogyakarta:CV. Aswaja Pressindo.
Sugono,Dendi.2003.Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid I.Jakarta: Pusat Bahasa dan
Pendidikan Nasional.
Komentar
Posting Komentar