Periodesasi Hadits dari Zaman Nabi hingga Abad ke 20
MAKALAH ‘ULUMUL HADITS
Periodesasi Hadits dari Zaman Nabi hingga Abad ke 2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun
makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini penulis akan membahas
mengenai Periodesasi
Hadits dari Zaman Nabi hingga Sekarang.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah
ini. Oleh karena itu penulis berharap pembaca dan rekan-rekan
sekalian untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun. Kritik
konstruktif dan sistematis dari pembaca sangat penulis harapkan untuk
menyempurnakan makalah-makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita
sekalian.
DAFTAR ISI
A. Pembagian Periode
Perkembangan Hadits
B. Perbedaan setiap Periode
Perkembangan Hadits
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masa atau
periode yang telah dilalui oleh hadits dari masa lahirnya dan tumbuh dalam
pengenalan, penghayatan, dan pengamalan umat dari generasi ke generasi disebut dengan periodesasi hadits. Sangat penting untuk mengetahui sejarah perkembangan hadits dari
masa ke masa, dengan
memerhatikan masa yang telah dilalui hadis sejak masa lahirnya di masa
Rasulullah SAW, serta segala hal yang memengaruhi hadits tersebut.
Rasulullah
SAW adalah panutan dan tokoh masyarakat. Beliau sadar sepenuhnya bahwa agama
yang dibawanya harus disampaikan kepada umat dan juga harus di amalkan dalam
kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, setiap kali ada
kesempatan Rasulullah SAW selalu berdialog dengan para sahabat. Hadis
Rasulullah SAW yang sudah diterima oleh para sahabat, ada yang dihafal dan
dicatat. Ada beberapa periode dalam sejarah perkembangan hadits, dari Periode
Rasulullah SAW sampai periode sekarang. Oleh karena itu, dalam pembahasan
makalah ini, penulis akan membahas tentang “Periodesasi Hadits dari Zaman Nabi
hingga Abad ke-20”.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana
pembagian periode perkembangan hadits?
2. Apa saja
perbedaan di setiap periodenya?
C.
Tujuan Penulisan
1. Mengetahui
pembagian periode perkembangan hadits
2. Mengetahui
perpedaan di setiap periode perkembangan hadits
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembagian Periode Perkembangan Hadits
1. Hadits Pada Masa Nabi Muhammad SAW.
Pada periode ini hadits yang lahir berupa sabda (aqwal),
perbuatan (af’al) dan penetapan (taqrīr) Nabi yang berfungsi
menerangkan al-Qur’ān untuk menegakkan syariat Islam dan membentuk masyarakat
Islam. Periode masa nabi
ini berlangsung selama 23 tahun. Masa ini JUGA merupakan masa turunnya wahyu Allah. Oleh karena
itu para Mereka merasa yakin bahwa Beliau
merupakan figur pemimpin yang mampu mengayomi semua kalangan masyarakat, baik
dari golongan masyarakat tingkat yang paling bawah sampai masyarakat tingkat
atas.sahabat sebagai pewaris pertama ajaran islam dalam keadaan seperti ini sangat dituntut keseriusan dan kehati-hatiannya. Segala apa yang dilihat
ataupun disaksikan oleh para sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan maupun
taqrir Nabi Muhammad merupakan landasan bagi amaliyah sehari-hari mereka yang
wajib untuk diikuti dan ditaati.
Nabi memerintahkan kepada para
sahabat terutama kepada sekretarisnya untuk menulis al-Qur’ān setiap wahyu
turun kepadanya. Beliau juga melarang untuk menuliskan sesuatu selain
al-Qur’ān. Segala
hadits yang diterima oleh para sahabat yang datangnya dari Rasulullah
diingatnya secara sungguh-sungguh dan hati-hati. Mereka sangat khawatir dengan perntah
Beliau untuk tidak terjadi kekeliruan tentang apa yang diterimanya. Waktu itu
Rasulullah melarangan penulisan hadits tersebut ialah untuk menghindari adanya
kemungkinan sebagian sahabat penulis wahyu memasukkan al-Hadits ke dalam
lembaran-lembaran tulisan al-Qur’ān, karena dianggapnya segala yang dikatakan
Rasulullah tersebut adalah wahyu semuanya atau bisa dikatakan agar tidak
tercampur antara wahyu dengan hadits. Lebih-lebih bagi generasi yang tidak
menyaksikan zaman tanzīl (turunnya wahyu), bisa saja mereka
tidak tahu bercampurnya antara al-Qur’ān
dengan al-Hadits jika hal itu terjadi.
Ketika Rasulullah wafat, al-Qur’ān
telah dihafal oleh para sahabat. Ayat-ayat suci al-Qur’ān seluruhnya telah lengkap ditulis,
hanya saja belum terkumpul dalam bentuk sebuah mushaf. Sedangkan penulisan
hadits ketika itu kurang memperoleh perhatian dari Rasulullah. Namun, penulisan hadits pada saat
itu dilakukan oleh beberapa sahabat secara tidak resmi, karena penulisan hadits
tersebut tidak diperintahkan langsung oleh Rasulullah seperti halnya dalam
penulisan al-Qur’ān. Sebagian ulama berpendapat bahwa Rasulullah tidak menghalangi
usaha para sahabat untuk menulis hadits secara tidak resmi. Mereka memahami bahwasanya
larangan Rasulullah menulis hadits adalah ditujukan kepada mereka yang
dikhawatirkan mencampuradukan hadits dengan al-Qur’ān. Sedangkan izin Beliau
hanya diberikan kepada mereka yang tidak dikhawatirkan mencampuradukan hadits
dengan al-Qur’ān dan diberikan kepada mereka yang hanya menulis sunah untuk
diri sendiri, dan mereka yang tidak kuat ingatan atau hafalannya.
para sahabat yang mencatat hadits
Rasulullah dalam shahifah-shahifahnya adalah:
1. Abdullah bin Amr bin Ash;
2. Jabir bin Abdullah al-Anshari;
3. Abdullah bin Abi Awfa;
4. Samurah bin Jundub;
5. Ali bin Abi Thalib.
2.
Hadits Pada Masa Sahabat Besar (Khulafa’urRasyidin)
Masa sahabat ini disebut dengan
periode Ashr-At-Tatsabbūt wa Al-Iqlāl min Al-Riwāyah (masa
membatasi dan menyedikitkan riwayat). Sepeninggalnya Nabi
Muhammad SAW. pedoman
hidup mereka yaitu al-Qur’ān dan hadits (As-sunnah) yang harus dipegangi dalam
seluruh aspek kehidupan umat. Pada masa ini perhatian para sahabat masih
terfokus kepada pemeliharaan dan penyebaran al-Qur’ān, sehingga periwayatan
hadits belum begitu berkembang dan mereka masih berusaha membatasinya. Kehati-hatian dan usaha membatasi
periwayatan yang dilakukan para sahabat, disebabkan karena mereka khawatir
terjadinya kekeliruan, karena hadits merupakan sumber tasyri' setelah
al-Qur’ān, yang harus terjaga dari kekeliruannya seperti juga
al-Qur’ān. Oleh karenanya para
sahabat khususnya khulafa’urrasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) dan
sahabat lainnya, seperti Al-Zubair, Ibn Abbas dan Abu Ubaidah berusaha
memperketat dan periwayatan dan penerimaan hadits.
3. Hadits Pada Masa Sahabat Kecil
Periode ini disebut
dengan ‘Ashr Intisyār al-Riwāyah ilā al-Amshār (masa berkembang dan
meluasnya periwayatan hadits). Pada dasarnya periwayatan pada periode ini tidak
jauh berbeda dengan periwayatan yang dilakukan oleh para sahabat besar. Tetapi
pada persoalan yang dihadapi mereka yang sedikit berbeda dengan
persoalan yang dihadapi oleh para sahabat besar. Pada periode ini
al-Qur’ān sudah dikumpulkan dalam satu mushaf, sehingga mereka sudah tidak lagi
mengkhawatirkannya.
Ketika pemerintah dipegang oleh Bani Umayah,
wilayah kekuasaan Islam sampai meliputi Mesir, Persia, Iraq, Afrika Selatan,
Samarkand dan Spanyol, disamping Madinah, Mekkah, Basrah, Syam dan Khurasan.
Sejalan dengan pesatnya perluasan wilayah kekuasaan Islam, penyebaran para
sahabat ke daerah-daerah tersebut terus meningkat, sehingga masa ini dikenal
dengan masa menyebarnya periwayatan hadits (istisydār al-Riwāyah ilā
al-Amsār).
4.
Hadits Pada Masa Abad II Hijriyah
Pada periode ini disebut Ashr Al-Kitābah wa
Al-Tadwīn (masa penulisan dan kodifikasi). Maksud dari kodifikasi pada
periode ini adalah kodifikasi secara resmi berdasarkan perintah kepala Negara,
dengan melibatkan beberapa ahli dibidangnya.
Kodifikasi hadits secara resmi ini baru terjadi
dipenghujung abad satu hijriah, dan usaha ini dimulai pada masa pemerintahan Islam yang dipimpin
oleh khalifah Umar ibn Abdul Aziz (99-101 H), yaitu khalifah kedelapan
dari kekhalifahan Bani Umayah, karena kekhawatiran Beliau akan lenyapnya
ajaran-ajaran Nabi setelah wafatnya para ulama' baik dikalangan sahabat maupun
tabiin. Maka kepada Abu Bakar ibn Muhammad ibn Amr ibn Hazm (gubernur Madinah),
ia mengirim instruksi yang berbunyi:
"Perhatikan atau periksalah hadits-hadits Rasulullah SAW. kemudian
tuliskanlah! Aku khawatir akan lenyapnya ilmu dengan meninggalkan para ulama
(para ahlinya). Dan janganlah kamu terima kecuali hadits Rasulullah SAW".
Abu Bakar Muhammad ibn Syihab Al-Zuhri adalah
ulama' yang pertama kali berhasil menghimpun hadits dalam satu kitab sebelum
khalifah meninggal dunia. Beliau ini adalah seorang ulama besar di negeri Syam dan Hijaz. Akan tetapi
karya beliau ini tidak sampai kepada generasi kita sekarang.
Ciri-ciri pembukuan hadits pada periode ini
yaitu hadits yang dibukukan dalam kitab mencakup hadits Nabi, fatwa sahabat dan
tabiin. Dengan demikian dalam periode ini masih belum ada pemisahan antara
hadits marfu', hadits mauquf, dan hadits maqthu'. Dan dalam hadits ini juga
belum dipisah antara hadits shahih, hasan dan dha'if.
5. Hadits
Pada Masa Awal Sampai Akhir Abad III Hijriyah
Periode ini disebut masa penerimaan, pentashihan dan penyempurnaan. Periode
ini merupakan puncak usaha pembukuan hadits. Masa penyeleksian atau penyaringan
hadits terjadi ketika pemerintahan dipegang oleh dinasti Bani Abbas, sejak masa
Al-Makmun sampai dengan Al-Muktadir (sekitar tahun 201-300 H).
Munculnya periode
ini karena pada tadwin sebelumnya belum berhasil memisahkan beberapa hadits
mauquf dan mathu' dari hadits marfu', dan belum bisa memisahkan beberapa
hadits yang dha'if dari yang shahih. Bahkan masih ada hadits yang maudhu' tercampur pada
yang shahih.
Para ulama pada masa ini bersungguh-sungguh dalam
mengadakan penyaringan hadits yang diterimanya. Mereka berhasil memisahkan
hadits-hadits yang dha'if (lemah) dari yang shahih dan hadits-hadits yang
mauquf (periwayatannya berhenti pada sahabat) dan yang maqthu' (terputus) dari
yang marfu' (sanadnya sampai Nabi SAW), meskipun meskipun sebenarnya penelitian
berikutnya masih ditemukan terselipnya hadits yang dha'if pada kitab-kitab
shahih karya mereka.
Ulama' hadits yang mula-mula menyaring dan
membedakan hadits-hadits yang shahih dari yang palsu dan yang lemah adalah
Ishaq ibn Rahawaih, seorang ulama' hadits yang sangat termasyhur. Kemudian
pekerjaan ini diselenggarakan dengan sempurna oleh Al-Imam Al-Bukhari. Ia
menyusun kitab-kitabnya yang terkenal dengan nama Al-fāmius Shahīh.
Dalam kitabnya ia hanya membukukan hadits-hadits yang dianggapnya shahih. Usaha
Al-Bukhari ini kemudian diikuti oleh muridnya yang sangat alim, yaitu Imam
Muslim.
Kitab-kitab hadits yang tersusun pada masa ini antara lain:
1. Shahih
Bukhari
2. Shahih
Muslim
3. Sunan Abu
Daud
4. Sunan
Al-Turmudzi
5. Sunan
Al-Nasa'i
6. Sunan Ibnu
Maja
7. Sunan
al-Daramy
8. Al-Muntaqa
9. Musnad
Ahmad
10. Al-Muwaththa Malik
6.
Hadits Pada Masa Abad IV Sampai Pertengahan
Abad VII Hijriyah
Periode
ini disebut dengan masa pemeliharaan, penertiban, penambahan dan penghimpunan.
Periode ini dimulai dari abad IV hingga tahun 656 H, yaitu pada masa Abasiyyah periode kedua. Ulama-ulama hadits yang
muncul pada abad ke-2 dan ke-3 disebut Mutaqaddimīn, yang mengumpulkan
hadits dengan semata-mata berpegang pada usaha sendiri dan pemeriksaan sendiri.
Sedangkan setelah abad ke-3 berlalu, bangkitlah pujangga abad keempat dan
seterusnya yang disebut dengan 'Mutaakhirīn'. Kebanyakan hadits
yang mereka kumpulkan adalah petikan atau nukilan dari kitab-kitab Mutaqaddimīn,
hanya sedikit yang dikumpulkan dari usaha mencari sendiri kepada para
penghafalnya.
Usaha-usaha ulama hadits yang terpenting dalam
periode ini adalah:
1. Mengumpulkan hadits Al-Bukhari/Muslim dalam sebuah kitab.
2. Mengumpulkan hadits-hadits dalam kitab enam.
3.
Mengumpulkan hadits-hadits yang
terdapat dalam berbagai kitab.
4. Mengumpulkan hadits-hadits hukum dan menyusun kitab-kitab athrāf.
Pada periode ini muncul usaha-usaha istikhrāj, yakni
umpamanya mengambil suatu hadits dari Al-Bukhari Muslim, lalu meriwayatkannya
dengan sanad sendiri yang lain dari sanad Al-Bukhari
atau Muslim. Dan pada periode ini pula muncul usaha-usaha istidrak, yakni
mengumpulkan hadits-hadits yang memiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau
salah satunya yang kebetulan tidak diriwayatkan atau dishahihkan oleh Bukhari
dan Muslim.
7.
Hadits Pada Masa Pertengahan Abad VII Sampai Sekarang
Periode ini disebut
dengan (masa pensyarahan, penghimpunan, pentakhrijan, dan pembahasan). Periode
ini adalah masa sesudah meninggalnya Khalifah Abasiyyah ke XVII Al-Mu'tasim (w.
656 H) sampai sekarang. Dalam periode ini usaha yang dilakukan oleh ulama adalah menerbitkan isi
kitab-kitab hadits, menyaringnya, dan menyusun kitab enam,kitab tahrij,
serta membuat kitab-kitab jami' yang umum.
Pada periode ini
juga disusun kitab-kitab Zawa'id, yaitu kitab hadits yang disusun
dengan memuat hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ulama hadits tertentu.
Diantaranya kitab Zawa'id susunan Ibnu Majah, Kitab Zawa'id As-Sunan
Al-Kubra disusun oleh Al-Bushiry, dan masih banyak lagi kitab zawa'id
yang lain.
Masa perkembangan
hadits ini terbentang cukup panjang, mulai dari abad keempat Hijriyah terus
berlangsung beberapa abad berikutnya sampai abad kontemporer. Dengan demikian
masa perkembangan ini melewati dua fase sejarah perkembangan Islam, yaitu fase
pertengahan dan fase modern.
B. Perbedaan setiap Periode Perkembangan Hadits
Dalam ke tujuh periodesasi hadits yang sudah
penulis bahas di atas, terdapat ciri khas atau perbedaan antar masing-masing
periode, untuk memudahkan pemahaman, penulis akan menyajikan
perbedaan-perbedaan tersebut melalui table di bawah ini :
|
Periode |
Perbedaan / ciri khas |
|
Zaman Nabi Muhammad SAW. |
1. hadits
masih berupa sabda (aqwal), perbuatan (af’al)
dan penetapan (taqrīr) Nabi yang berfungsi menerangkan al-Qur’ān 2. Rasulullah
melarang penulisan hadits dan lebih focus terhadap penulisan al-Qur’an,
karena khawatir akan tercampur antara hadits dan wahyu Allah |
|
Zaman Khulafa’urrasyidin |
1. Pemeliharaan
dan penyebaran al-Qur’an 2. Membatasi
periwayatan hadits karena berhati-hati atas kekeliruan yang bisa saja
terjadi. |
|
Zaman sahabat kecil |
1. Al-Qur’an
sudah dibukukan dalam bentuk mushaf 2. Periwayatan
hadits meluas dan semakin berkembang |
|
Zaman abad II Hijriah |
1. Masa
penulisan dan kodifikasi hadits secara resmi (diperintahkan kepala negara
untuk menghindari hilangnya ajaran Rasulullah) 2. Hadits
masih bercampur antara yg shahih dan yg dha’if. |
|
Zaman awal sampai akhir abad III Hijriah |
1. Masa penerimaan, pentashihan dan penyempurnaan 2. Memisahkan beberapa hadits mauquf
dan mathu' dari hadits marfu', tetapi
belum bisa memisahkan beberapa hadits yang dha'if dari yang shahih. |
|
Zaman Abad IV Sampai Pertengahan Abad VII Hijriyah |
1. Masa pemeliharaan, penertiban, penambahan dan
penghimpunan 2. Muncul usaha-usaha istikhrāj |
|
Zaman Pertengahan Abad VII Sampai Sekarang |
1. Masa pensyarahan, penghimpunan, pentakhrijan, dan pembahasan 2. Ulama’ menerbitkan isi kitab-kitab hadits, menyaringnya, dan menyusun kitab
enam, kitab tahrij,
serta membuat kitab-kitab jami' yang umum |
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sejarah perkembangan hadits bisa kita
ketahui dari pembagian periode atau periodesasi perkembangan hadits, agar kita mengetahui
dan bisa mentela’ah kandungan di dalam nya dengan kehati-hatian karena hadits
adalah sumber ajaran agama islam setelah al-Qur’an.
Perkembangan
hadits dibagi menjadi 7 periode, yaitu masa nabi Muhammad, khulafa’urrasyidin
(sahabat besrar), sahabat kecil, masa abad II hiriah, Masa abad III hijriah,
masa abad IV sampai pertengahan abad VII hijriah, dan masa pertengahan abad VII
hijriah sampa sekarang. Setiap periode atau masa perkembangan hadits memiliki
perbedaan atau ciri khas masing-masing.
DAFTAR PUSTAKA
blogspot.com/2017/06/makalah-tentang-periodisasi-dan.html

Komentar
Posting Komentar