Tujuan Dan Tanggung Jawab Ilmu Pendidikn Islam
PAPER
Ilmu Pendidikan Islam
Tujuan Dan Tanggung Jawab Ilmu
Pendidikn Islam
Disusun oleh : Verra Safitri (2019010478)
Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ)
Fakultas Ilmu Tarbiah dan
Keguruan (FITK)
Wonosobo, Jawa Tengah
2020
A.
Pendahuluan
Tujuan hidup seorang muslim pada
dasarnya adalah untuk mengabdi pada Allah SWT. Karena pengabdian adalah bentuk
realisasi dari keimanan dan diaplikasikan dalam setiap sendi-sendi kehidupan
dan itu adalah menjadi tujuan dari pendidikan Islam. Sedangkan tujuan
pendidikan Islam adalah terbentuknya insan yang memiliki dimensi religius,
berbudaya, dan berkemampuan ilmiah.
Pendidikan terbagi menjadi 3 yaitu
pendidikan informal, pendidikan nonformal, dan pendidikan formal. Penanggung
jawab pendidikan informal adalah orang tua dan keluarga di rumah. Mereka perlu
mendidik anak mereka agar menjadi anggota masyarakat yang berbudi. Penanggung
jawab pendidikan nonformal adalah masyarakat kursus dan sejenisnya. Mereka
perlu mendidik peserta didik sehingga memiliki keterampilan yang memadai. Dan
penanggung jawab pendidikan formal adalah sekolah dan perguruan tinggi. Peranan
dan tanggung jawab pendidikan formal, informal dan nonformal ini sangatlah
penting, semuanya saling berkaitan dan harus saling menunjang demi terwujudnya
tujuan pendidikan Islam dan tujuan pendidikan Indonesia yakni “membangun aqidah
yang luhur dan mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga menjadi manusia yang
bahagia didunia dan diakhirat.
B.
Rumusan masalah
1.
Tujuan Ilmu Pendidikan
Islam
2.
Tanggung Jawab Guru
Dalam Pendidikan Islam
3.
Tanggung jawab Ilmu Pendidikan
Islam Pada Diri Sendiri
C.
Pembahsan
1.
Tujuan Ilmu Pendidikan
Islam
Sejalan dengan pengertian dan
karakter Ilmu Pendidikan Islam, maka Imu Pendidikan Islam, baik secara teori
maupun praktik, berusaha merealisasikan misi ajaran Islam, yaitu menyebarkan
dan menananmkan ajaran Islam ke dalam jiwa umat manusia, mendorong penganutnnya
untuk mendorong nilai-nilai ajaran Al-Qur’an dan al-Sunnah sebagaimana tersebut
di atas, mendorong pemeluknya untuk menciptakan pola kemajuan hidup yang dapat
mensejahterakan pribadi dan masyarakat, meningkatkan drajat dan martabat manusia,
dan seterusnya.
Selain itu, Ilmu Pendidikan Islam
menyediakan teori-teori mengenai pendidikan di rumahtangga, di masyarakat dan di
sekolah. Kebutuhan pada teori-teori itu, sekarang terasa akan mendadak. Karena tiadanya
teori tersebut, kita tidak mungkin menyediakan model-model pendidikan yang kita
perlukan. Ilmu Pendidikan Islam bertujuan memberikan landasan teoritis terhadap
praktik pendidikan yang selama ini berjalan secara konvensional, tanpa konsep
dan desain.
Selanjutnya, Ilmu Pendikan Islam juga
bertujuan memberikan penjelasan teoritis tentang tujuan pendidikan yang harus
dicapai, landasan teori,cara, dan metode dalam mendidik, dan seterusnya.[1]
Tujuan Imu Pendidikan Islam lebih
lanjut dapat dikemukakan sebagai berikut :
1.
Melakukan pembuktian
terhadap teori-teori kependidikan Islam yang merangkum aspirasi atau cita-cita
Islam yang harus diikhtiarkan agar menjadi kenyataan.
2.
Memberikan bahan-bahan
informasi tentang pelaksanaan pendidikan dalam segala aspeknya bagi pengembangan
Imu Pendidikan Islam tersebut. Ia memberikan bahan masukan yang berharga pada
ilmu ini
3.
Menjadi korektor
terhadap kekurangan teori-teori yang dipegangi oleh Imu Pendidikan Islam sehingga
kemungkinan pertemuan antara teori dan praktik semakin dekat dan hubungan
antara keduanya bersifat interaktif (saling mempengaruhi).[2]
Melalui berbagai pendapat
tersebut di atas, diketahui dengan jelas bahwa Imu Pendidikan Islam memiliki
tujuan yang mendasar dan strategis. Dikatakan mendasar, karena mulai dari Imu
Pendidikan Islam dapat ditemukan teori, konsep dan prinsip-prinsip yang dapat
digunakan dalam meumuskan berbagai komponen pendidikan: visi, misi, tujuan,
kurikulum proses belajar-mengajar dan seterusnya. Dan dikatakan strategis
karena dengan Imu Pendidikan Islam, proses pendidikan akan berjalan sistematis
dan efektif dalam rangka menghasilakan lulusan pendidikan yang bermutu dalam segala
aspeknya. Keterbelakangan Imu Pendidikan Islam yang umumnya terjadi saat ini,
antara lain karena kegiatan pendidian yang umumnya berlangsung di masyarakat
masih dilaksanakan secara konvensional, hanya bermodalkan niat dan semangat, tapi
tidak didukung dengan teori dan konsep yang mapan dan telah terbukti
efektifitasnya.
2.
Tanggung Jawab Guru Dalam
Pendidikan Islam
Guru adalah pendidik yang professional karna ia merelakan
dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul
dipundak para orang tua. Ketika orang tua menyerahkan anak nya untuk
disekolahkan, berarti pelimpahan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya
kepada guru.
Dalam konteks pendidikan Islam “pendidik” sering disebut
dengan murabbi, mu’allim, mu’addib, mudarris, dan mursyid. Menurut
peristilahan yang dipakai dalam pendidikan dalam konteks Islam, Kelima istilah
ini mempunyai tempat tersendiri dan mempunyai tugas masing-masing.
1. Murabbi
adalah: orang yang mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi
serta mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan
malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya.
2. Mu’allim adalah: orang yang menguasai ilmu
dan mampu mengembangkannya serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan,
menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, sekaligus melakukan transfer ilmu
pengetahuan, internalisasi serta implementasi.
3. Mu’addib adalah: orang yang mampu
menyiapkan peserta didik untuk bertanggungjawab dalam membangun peradaban yang
berkualitas di masa depan.
4. Mudarris adalah: orang yang memiliki
kepekaan intelektual dan informasi serta memperbaharui pengetahuan dan
keahliannya secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya,
memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat,
minat dan kemampuannya.
5. Mursyid adalah: orang yang mampu menjadi
model atau sentral identifikasi diri atau menjadi pusat
anutan, teladan dan konsultan bagi peserta didiknya.[3]
Pendidik
dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan
peserta didiknya dengan upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik
potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa)
Al-Ghazali menukil beberapa Hadits Nabi tentang
keutamaan seorang pendidik. Ia berkesimpulan bahwa pendidik disebut sebagai
orang-orang besar yang aktivitasnya lebih baik daripada ibadah setahun.[4] Selanjutnya
Al-Ghazali menukil dari perkataan para ulama yang menyatakan bahwa pendidik
merupakan pelita segala zaman, orang yang hidup semasa dengannya akan
memperoleh pancaran cahaya keilmiahannya. Andaikata dunia tidak ada pendidik,
niscaya manusia seperti binatang, sebab: pendidikan adalah upaya mengeluarkan
manusia dari sifat kebinatangan (baik binatang buas maupun binatang jinak)
kepada sifat insaniyah dan ilahiyah.[5]
Menurut al-Ghazali, tugas pendidik yang utama
adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati manusia
untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena tujuan pendidikan Islam yang
utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam paradigma Jawa ,
pendidik diidentikan dengan (gu dan ru) yang berarti “digugu dan ditiru”.
Dikatakan digugu (dipercaya) karena guru mempunyai seperangkat ilmu yang
memadai, yang karenanya ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam
melihat kehidupan ini. Dikatakan ditiru (di ikuti) karena guru mempunyai
kepribadian yang utuh, yang karenanya segala tindak tanduknya patut dijadikan
panutan dan suri tauladan oleh peserta didiknya.[6]
3. Tanggung Jawab Ilmu
Pendidikan Islam Pada Diri Sendiri
Dengan menggunakan
qa’idah fiqih orang islam dewasa dan berakal sehat disebut mukalaf , ia
dibebani syariat . Sehubungan dengan itu apabila manusia telah mencapai tingkat
mukallaf , maka ia bertanggung jawab sendiri dalam mempelajari dan mengamalkan
ajaran agama islam. Kalau dikaitkan dengan pendidikan , maka orang mukalaf
berarti orang yang sudah dewasa , sehingga sudah semestinya ia bertanggung
jawab terhadap apa yang dikerjakan termasuk apa yang harus ditinggalkan dan apa
yang harus dikerjakan.
Petunjuk tentang itu banyak sekali dijumpai dalam AlQur’an
yang berbunyi :
قواانفسكم واههليكم نارا
Artinya : Jagalah
dirimu dan ahlimu dari api neraka.
ولا تقف ما ليس لك به علم ان السمع
والبصروالفؤادكل اولئك عنه مسىؤلا
Artinya : Dan
janganlah kamu turut apa apa yang tidak kamu ketahui, karena sesungguhnya
pendengaran, penglihatan, dan fu’ad masing-masing akan dimintai pertanggung
jawaban.
فسئلوااهل الذكر ان كنتم لاتعلمون
Artinya : Maka
hendaklah kamu bertanya kepada orang-orang yang mengerti jika kamu tidak tahu.
Dengan ditegaskan tanggung jawab diri sendiri ini tercegah
adanya perlemparan tanggung jawab kepada pihak – pihak lain lebih dari itu,
penegasan itu juga mendorong setiap individu untuk mengembangkan fitrah dan
potensi atau sumber daya insaninya menuju kesempurnaan.[7]
D.
KESIMPULAN
Tanggung jawab itu merupakan suatu kewajiban yang harus
dilaksakan sebagai akibat dari perbuatan yang telah dilakukan dalam rangka
menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain yang dipertanggungjawabkan
kepada Allah.
Guru adalah salah satu yang mempunyai tanggung jawab awal dalam pendidikan muridnya. Setidaknya
orang tua bertanggung jawab atas pengasuhan, perlindungan, dan pendidikan untuk
kebahagiaan anak. Guru berperan didalam
menyediakan dan melengkapi fasilitas pendidikan murid serta mengembangkan budaya ilmiah
didalam sekolah. Dalam
pendidikan murid, guru harus dapat memahami cara belajar murid, kondisi murid sehingga dapat menerapkan metode yang
tepat.
Guru adalah pendidik professional yang mengabdikan dirinya
memberikan pendidikan kepada peserta didik yang diamatkan kepadanya. Didalam
Islam guru juga disebut murabbi, mu’allim, mu’addib, mudarris, dan
mursyid yang masing-masing mempunyai tempat dan mempunyai tugas
tersendiri. Pendidik didalam Islam bertanggung jawab terhadap peserta didik
dalam hal cipta, karya, dan karsa. Didalam Islam pendidik harus alim dan adil
yang dapat memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia dan
meluruskan perilaku yang buruk, sehinggga pendidik berfungsi sebagai instruksional,
educator dan managerial.
Apabila manusia telah mencapai
tingkat mukallaf , maka ia bertanggung jawab sendiri dalam mempelajari dan
mengamalkan ajaran agama Islam. Kalau dikaitkan dengan pendidikan ,sudah
semestinya ia bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan termasuk apa yang
harus ditinggalkan dan apa yang harus dikerjakan. Dari semuayang
dilakukan dalam Ilmu Pendidikan Islam adalah untuk mendekatkan diri kepada sang
pencipta yaitu Allah SWT dengan mengikuti Al-Qur’an dan Hadits.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin H.M, Ilmu Pendidikan
Islam dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Bumi Aksara, Jakarta:1991
Munarji,
Ilmu Pendidikan Islam, PT.Bina Ilmu, Jakarta: 2004
Nata H. Abuddin, Ilmu Pendidikan
Islam Dengan Pendekatan Multidisipliner, PT.Rajagrafindo
Persada, Jakarta: 2010
Tafsir Ahmad, Ilmu Pendidikan
Dalam Perspektif Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung: 1992
Ulwan
Abdullah, Tarbiyah Al’Aulad Fi Al-Islam, Faizan, Semarang:1979
m Dengan Pendekatan Multidisipliner. (Jakarta: PT.Rajagrafindo
Persada, 2010) cet II. Hlm. 20-22.
[2] H.M Arifin. Ilmu
Pendidikan Islam dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. (Jakarta:
Bumi Aksara, 1991). Cet I. Hlm. 19-20.
[3] Ahmad Tafsir. Ilmu
Pendidikan Dalam Perspektif Islam. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992). cet
I. Hlm. 75-76
[4] Abdullah Ulwan. Tarbiyah Al’Aulad Fi Al-Islam. (Semarang:
Faizan,1979). cet I. Hlm. 51.
[5] Ibid. Hlm. 66.
[6] Ibid. Hlm. 62.
[7] Munarji. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: PT.Bina Ilmu, 2004).
Hlm 137-138.


Komentar
Posting Komentar